Business

Client Update: Mandatory to Submit Company’s Annual Financial Report

According to the issuance of regulation No. 25 of 2020 by the Ministry of Trade on annual company financial report (“MOT 25/2020”), the Ministry is trying to optimize the utilization of corporate financial reports and facilitate business as regards their obligation to submit the annual financial report.

Please see below information for the summary of the said regulation:

  1. General Information

Under this regulation, the company’s annual financial report (“LKTP”) reporting obligations apply  to          corporations  that have one of the criteria mentioned below:

  1. Limited liability company with one of the following criteria:
  2. public company;
  3. having business sectors related to the mobilization of public funds;
  4. having issued a letter of indebtedness;
  5. having a capital in the minimum of IDR 25,000,000,000 (twenty-five billion Rupiah); or
  6. a debtor whose annual financial statements are required by the bank to be audited.
  7. Foreign companies domiciled and operating in the territory of the Republic of Indonesia according to the provisions of the legislation, including branch offices, sub-offices, subsidiaries and agents and representatives of these companies that have the authority to enter into agreements; or
  8. Corporate Companies (PERSERO), Public Companies (PERUM), and Regional Companies.

      LKTP must be submitted by the companies no later than six months of the end of the company accounting year.

  1. Submission Procedure

MOT 25/2020, regulates the procedure for the submission of company LKTP using an online system called the  SIPT (Sistem Informasi Perizinan Terpadu) managed by the Ministry of Trade. The companies should obtain the business identification number from the OSS before it can access the SIPT, companies will need the username and  password obtained at the time of activation of the OSS account,

Furthermore, if the companies have submitted LKTP to the following parties:

    1. Regulator;
    2. the governing authority regarding the submission of financial statements;
    3. Minister of State-Owned Enterprises; or
    4. Minister of Finance.

the obligation to submit LKTP is deemed done. The companies will still need to provide evidence of the submission to the Director-General of Domestic Trade, through the SIPT.

The Director-General of Domestic Trade, issues the STP-LKTP in the form of electronic documents that are listed in the Quick Response Code, no later than 5 (five) working days after the LKTP is submitted completely and correctly.

  1. Sanction

Every company that does not submit LKTP or does not submit LKTP within the time limit as referred to in the MOT 25/2020, is subject to administrative sanctions.

Any violation to MOT 25/2020, may carry the administrative sanction of:

    1. a written sanction;
    2. revocation of business licenses and/or operational/commercial licenses of companies that carry out business activities in the field of trade; and/or
    3. recommendation for revocation of business license and/or operational/commercial permit for companies that carry out business activities other than trading.

A written sanction may be given 3 (three) times with a minimum period of 14 (fourteen) days for each written sanction.

While for the companies who wrongly submitted the LKTP, is subject to the following sanction:

    1. a written sanction;
    2. revocation of STP-LKTP;
    3. revocation of business licenses and/or operational/commercial licenses of companies that carry out business activities in the field of trade; and/or
    4. recommendation for revocation of business license and/or operational/commercial permit for companies that carry out business activities other than trading.

The companies may submit LKTP manually to the Directorate of Business Development and Distribution Performers for a maximum period of 6 (six) months from the date this Ministerial Regulation comes into force.

To avoid the above-mentioned sanction, we can help you to prepare and submit the LKTP report to the Ministry of Trade, please do not hesitate to contact us at hibra@hibraconsulting.com for further queries.

*****

Read more

Client Alert: Mandatory to Submit Investment Activity Report (LKPM)

Investment Activity Report or known as Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) is a mandatory report for every foreign investment company (PMA) or a local investment company (PMDN) with more than IDR 500,000,000 (five hundred million Rupiah) of issued and paid-up capital.

The Indonesian Investment Coordinating Board or known as the BKPM, is expecting for both of the company mentioned above to make the report once per quarter related to the investment realization made by the company, the aim is for the BKPM to monitor and assess the market circumstance.

A company must submit LKPM upon the issuance of their business identification number (NIB) and their business license from the online single submission system (OSS), and the company needs to submit it by the 10th day of the following period:

  1. period of January – March, at the latest 10th  April of the current month (Q1);
  2. period of April – June, at the latest 10th  July of the current month (Q2);
  3. period of July – September, at the latest 10th October of the current month (Q3); and
  4. period of October – December at the latest 10th January on the next year (Q4).

The documents that the company needs to prepare related to the report are as follows:

  • Financial report for the reporting period to see the use of capital of the company.
  • Employee matters such as an increase or decrease in employment.
  • Licenses owned by the company.

Failure to submit your LKPM report may result in a serious administrative sanction. In most cases, BKPM will issue a notification to a company that has not filed the report on the above deadline, after a warning letter may be followed with freezing of the company business license.

If you have difficulties to submit your LKPM report, we can help you to prepare and submit it for you, contact us at hibra@hibraconsulting.com, we will help you to solve the issue.

Thank you.

Read more

CLIENT ALERT : FORCE MAJEURE DAN PENERAPANYA ATAS COVID-19

PENDAHULUAN

Sejak ditetapkannya oleh World Health Organization (WHO) sebagai Pandemic pada 11 Maret 2020, SARS-CoV-2 atau yang saat ini dikenal dengan sebutan COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) telah tersebar di 152 negara dan menggangu stabilitas perekonomian negara-negara, dimana pada beberapa negara telah diberlakukan lockdown yang menyebabkan pergerakan barang dan jasa sama sekali tidak terjadi.

Di Indonesia sendiri, kasus COVID-19 sudah mulai mengalami masa puncaknya, dimana sudah hampir 2000an orang positif mengidap wabah ini. Oleh karena hal tersebut, sudah dapat dipahami bahwa akan banyak pelaksanaan usaha yang akan terdampak, dan mengakibatkan akan banyak terjadi keadaan wanprestasi atau cidera janji, suatu pihak di dalam Perjanjian bisa tidak dapat melaksanakan kewajibannya akibat terdampak oleh COVID-19 ini.

KONSEP FORCE MAJEURE DI INDONESIA

Di Indonesia tidak ada satu aturan khusus yang mendefiniskan atau mengatur mengenai Force Majeure (“Keadaan Memaksa”). Keadaan Memaksa yang dalam bahasa Belanda disebut Overmacht, hanya memiliki pengaturan berdasarkan pasal yang terdapat pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yakni pada ketentuan Pasal 1244 dan 1245 KUHPerdata, dimana terdapat pengaturan bagi debitur untuk tidak menjalankan kewajibannya apabila terjadi suatu keadaan memaksa atau karena hal yang terjadi secara kebetulan.

Apabila dikembalikan kepada prinsip pacta sun servanda, yang tertuang dalam Pasal 1338 KUHPerdata, dimana semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang, berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Maka, dalam keadaan seperti saat ini, para pelaku usaha harus kembali melihat perjanjian yang mereka buat dan memahami pengaturan Keadaan Memaksa berdasarkan masing-masing perjanjian, apakah kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya menyatakan bahwa keadaan saat ini masuk sebagai Keadaan Memaksa berdasarkan perjanjian.

Lebih lanjut, dalam suatu perjanjian yang sering kita temui di Indonesia, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa jenis keadaan yang sering dikategorikan sebagai Keadaan Memaksa yaitu:

  1. Bencana Alam;
  2. Bencana Non-Alam; dan
  3. Bencana Sosial.

Definisi atas keadaan-keadaan di atas dapat kita lihat pada Undang-undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (UU 24/2007), dimana definisinya adalah sebagai berikut:

  1. Bencana Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, antara lain gempa bumi, tsunami, gunung Meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
  2. Bencana Non Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit; dan
  3. Bencana Sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

Dari definisi bencana yang terdapat pada UU 24/2007, dan merujuk kepada pernyataan Presiden Joko Widodo, yang menyatakan bahwa COVID-19 adalah suatu bencana non alam, maka keadaan saat ini secara serta merta masuk sebagai Keadaan Memaksa dan dapat memberikan kesempatan kepada para pihak di dalam suatu perjanjian yang tidak dapat melanjutkan prestasinya untuk menyatakan dalam kondisi Keadaan Memaksa.

Namun demikian, bagi para pihak yang ingin menyatakan diri dalam Keadaan Memaksa harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Bertindak atas itikad baik (memastikan bahwa rekan anda mendapatkan informasi terupdate dan jelas mengenai keadaan anda);
  2. Dapat menunjukan alasan tidak dapat dipenuhinya prestasi karena hal diluar kemampuannnya;
  3. Memeriksa ketentuan pasal mengenai Keadaan Memaksa di dalam perjanjian yang disepakatinya, apakah ada ketentuan khusus sebelum dapat dinyatakan Keadaan Memaksa; dan
  4. Memastikan menjalankan mitigasi masalah agar tidak ada tuntutan dikemudian hari yang disebabkan karena tidak dipenuhinya prestasi.

POTENSI TERJADI PERMASALAHAN ATAS FORCE MAJEURE

Bahwa apabila konsep dan pemahaman yang telah kami jelaskan di atas tidak diterapkan dengan baik oleh para pihak yang terlibat dalam suatu perjanjian, maka kemungkinan yang sering terjadi didalam praktik adalah hal ini berpotensi besar menjadi suatu permasalahan (dispute) diantara para pihak. Ketika salah satu pihak tidak dapat menerima tindakan dari pihak lainnya yang tidak memenuhi suatu kewajiban atau prestasi dengan alasan terjadi keadaan memaksa, maka pihak tersebut dapat saja mengajukan suatu tuntutan dengan gugatan wanprestasi kepada pengadilan atau melalui arbitrase sesuai kesepakatan penyelesaian hukum apa yang dipilih oleh para pihak di dalam perjanjian. Selanjutnya hal ini menjadi soal pembuktian masing-masing pihak, apakah tidak dapat dilakukannya suatu kewajiban atau prestasi tersebut benar karena sebab terjadinya suatu keadaan memaksa atau hanya atas dasar kelalaian atau bahkan itikad buruk dari salah satu pihak.

Apabila anda masih memiliki keraguan dan pertanyaan, mohon untuk tidak sungkan mengirimkan email kepada kami melalui hibra@hibraconsulting.com atau dapat menghubungi konsultan kami melalui nomor +62 815 994 7030 dan +62 811 8283 557.

Read more